Rabu, 18 Februari 2009

Kerajinan Kulit Telur yang Fenomenal

Siapa bilang kulit telur merupakan sampah dan tidak bisa bermanfaat. Ternyata kulit telur bisa dipakai sebagai bahan penghias furnitur dan aksesoris penghias rumah yang unik dan menghasilkan puluhan juta rupiah. Kulit telur yang dicat atau diukir menjadi hiasan, tidak kalah menarik dengan material lainnya. Adalah Teguh Joko Dwiyono, desainer sekaligus pemilik galeri kerajinan kulit telur.


Ide awalnya, serba tak terduga. Suatu ketika, Teguh menginjak pecahan telur yang dibuang ketika istrinya sedang memasak di dapur. Akhirnya dia mencoba menghasilkan kerajinan tangan dari media kulit telur.

Dengan modal awal Rp 5 juta, bendera Dwiyono Art bisa menangguk omzet sekitar Rp 50 juta per bulan. Karya-karyanya sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor. Berkat kerajinan kulit telurnya, ia kerap melanglang buana untuk berpameran.

Selama dua tahun, Teguh terus bereksperimen untuk membuat kerajinan itu. Hasilnya, kulit telur yang dibuang tersebut menjadi kerajinan yang memiliki karakteristik dan nilai filosofis."Ketahanan kulit telur punya kekuatan yang luar biasa," kata Teguh.

Menurutnya, kulit telur tahan terhadap api, tidak akan dimakan oleh rayap atau hama lainnya, serta tahan terhadap pergantian cuaca. Begitu pula bila kena sinar matahari, tidak akan memudarkan warnanya. Kulit telur ini seakan menyampaikan sebuah pesan khusus kepada setiap orang yang akan menggunakannya.

Bahwa meskipun dipegang rapuh, namun kulit telur memiliki kekuatan yang luar biasa hebatnya ibaratnya seperti rahim manusia. Bahan kulit telur yang digunakan untuk membuat kerajinan furnitur dan aksesori terbagi atas tiga jenis peruntukan, yakni kerajinan yang berasal dari kulit telur ayam negeri, kulit telur ayam kampung, dan burung puyuh.

Setiap pemilihan material beragam kulit telur itu akan menjadikan tampilan kerajinan memiliki wajah yang berbeda. "Setiap jenis kulit telur punya corak berbeda bila diaplikasikan menjadi sebuah produk kerajinan," tutur Teguh.

Kerajinan dari kulit telur ayam negeri (broiler) memunculkan corak berwarna putih. Telur ayam kampung memunculkan corak hitam kemerah-merahan. Sedangkan corak hitam muncul dari kulit telur burung puyuh. Cara membuatnya cukup mudah, pertama, kulit telur dibersihkan dan lapisan putih kulit di dalamnya dilepas.

Telur yang sudah dibersihkan kemudian dijemur hingga betul-betul kering. Kulit telur yang sudah mengering itu diambil satu per satu untuk ditempelkan dengan lem di media yang akan dijadikan kerajinan, baik di atas kanvas, kayu, kaca, dinding, atau plafon. Tahap selanjutnya adalah finishing yaitu dengan mengampelas hingga halus dan disemprot pakai pernis.

Untuk menyelesaikan satu item hiasan kulit telur dibutuhkan waktu paling lama satu bulan atau tergantung medianya dan tingkat kesulitan pengerjaannya.Untuk menyelesaikan media berukuran satu meter persegi, membutuhkan 200 butir telur. "Biasanya saya beli pecahan kulit telur dari tukang nasi goreng. Sekali beli bisa Rp 10.000 satu kilogram," ujar Teguh.

Produk kerajinan ini sudah diekspor ke Amerika, Afrika dan Eropa. Produk kerajinan yang berasal dari bahan kulit telur ini dapat diperoleh dengan kisaran harga mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 30 juta. Sayangnya, Teguh enggan membeberkan berapa omset yang bisa diperolehnya. "Sebagai gambaran saja, sekali kirim ke satu negara rata-rata bisa menghasilkan Rp 10 juta. Belum yang lainnya," katanya.

6 komentar:

Vhie mengatakan...

mas...aku mau tanya :
kalo mau bikin kerajinan gerabah yang di lapisi kulit telur, itu tahapan-tahapannya gimana ya...??
mulai dari awal sampe tahap finishingnya.

ImOeT mengatakan...

saya suka banget dengan karajinan yang anda tekuni, dan saya mau belajar nih...tapi gimana caranya ya...?
saya udah pernah coba, tapi saya kurang mengerti dai pernisnya dan pewarnaannya...?

icha mengatakan...

Mas Teguh, saya punya banyak limbah kulit telur. mas minat untuk beli ngak?
saya juga minat untuk belajar bikin kerajinan kulit telur, bisa saya kursus dengan mas?
thanks

Unknown mengatakan...

Bagus bagus ya..... hidup limbah....

Umi Farida mengatakan...

Wah bagus banget nih artikelnya, saya ijin buat diajarka ke ibu2 darmawanita ya, thank's

just sasa mengatakan...

hmm, ide bagus buat anak-anak didik saya. Gimana sih cara yang paling sederhana buat pemula seperti saya?